merajut.com

komunitas merajut & merenda Indonesia

Quote of the day

Properly practiced, knitting soothes the troubled spirit, and it doesn\'t hurt the untroubled spirit, either.

Elizabeth Zimmerman

Buku Tamu

Buku Tamu

Kalender Kegiatan

« < July 2009 > »
M T W T F S S
29 30 1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31 1 2

Sedang Online

We have 29 guests online
Custom Search

Sekilas Review

Buku Majalah Tempat Produk
Knitting On Top of the World Knitting On Top of the World
Saya dapet buku ini karena lupa 'decline' tawaran featured selection di Crafter's Choice book club. Padahal saya ga niat beli (karena duitnya mau dial...Readmore

Newsflash!

Manfaatkan Fitur di Merajut.com

Hai teman-teman pecinta merajut dan merenda,

yuk manfaatkan fitur-fitur di merajut.com! Yang sudah jadi member bisa ngobrol dan tanya-tanya di Forum Merajut, bisa upload foto-foto karya di Galeri Anggota. Yang cari info kursus, toko, coba klik FAQ di menu atas. OK, selamat menikmati! 

FESTIVAL RAJUTAN INDONESIA, 11-12 JULI'09, MUSEUM BANK MANDIRI PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Saturday, 04 July 2009 03:52

Komunitas Mari Merajut Indonesia bekerjasama dengan Museum Bank Mandiri akan menyelenggarakan acara FESTIVAL RAJUTAN INDONESIA yang akan diadakan tgl 11-12 Juli 2009.

Tentu saja acara ini terbuka lebar buat teman-teman semua, bukan hanya untuk teman-teman yang sudah bisa merajut, ini adalah ajang supaya kegiatan Merajut semakin dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.

Akan ada kegiatan Diskusi, bertemu dengan pengarang buku rajutan favorit :
Mbak Safrida Purwati (pengarang Buku Merajut Yuk!! yang juga pendiri milis Mari Merajut),
Ibu A.J. Boesra (Pengarang Buku Merajut Karya Anak Bangsa)
dan juga akan ada Mbak Thata Pang (Pengarang Buku Merajut untuk Pemula, Kreasi Rajutan untuk Bayi, Kreasi Rajutan Cantik)

Selain itu akan ada Tim Perajut Tobucil dan mereka semua adalah cowo-cowo, jadi siapa bilang Merajut itu hanya kegiatan para perempuan.

Tidak ketinggalan acara Pelatihan yang disediakan untuk dapat meningkatkan keterampilan teman-teman semua. Buat teman-teman yang belum bisa merajut dan ingin belajar, ada kegiatan pelatihan belajar tehnik knitting dan crochet untuk tingkat dasar dan lanjutan (bisa belajar baca pola, belajar bikin tas, juga bisa untuk bikin perhiasan dengan tehnik crochet). Sayang sekali kalau kesempatan ini dilewatkan.

Juga akan ada Pameran hasil karya Rajutan, Bazaar hasil karya teman-teman, benang-benang, dan juga buku-buku Merajut.

jadi Ayo datang beramai-ramaiiiii !!!!!

 

 


Berikut ini adalah SUSUNAN ACARA DISKUSI:

Lokasi : Aula/Auditorium Museum Bank Mandiri
JL. Lapangan Stasiun no. 1
(seberang stasiun Kota)
Jakarta Barat


Hari Sabtu, 11 Juli 2009

10.00 - 12.00 : Pembukaan dan Diskusi "Merajut untuk Meningkatkan Kreativitas dan Menambah
Penghasilan Keluarga
Pembicara : A.J. Boesra (Pengarang Buku Merajut : Karya Anak Bangsa)
Perwakilan dari Kantor Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan (masih dalam konfirmasi)

13.00 - 15.00 : Sharing dengan Pengarang Buku
Pembicara : Safrida Purwati (Pengarang Buku Merajut Yukk!! dan salah satu Pendiri Milis Mari Merajut

Minggu, 12 Juli 2009

09.30 - 11.30 : Bagaimana Membangun Bisnis Rajutan
Pembicara : Maylita (pendiri Rumah Rajut)
Penulis Bisnis Online dari Visi Kata.com

11.45 - 13.45 : Sharing dengan Pengarang Buku
Pembic

ara : Thata Pang (Pengarang Buku Merajut untuk Pemula, Kreasi Rajutan untuk Bayi, Kreasi Rajutan Cantik)

14.00 - 15.45 : Merajut Bukan Hanya Dominasi Perempuan
Pembicara : Martin Suhanda, Tim Perajut dari Tobucil, Sam Sambas

16.00 - selesai : penutupan acara : Merajut untuk Semua : Penyerahan sumbangan kepada Perwakilan dari Situ Gintung


KELAS PELATIHAN :

Sabtu, 11 Juli 2009

13.00 - 16.00 : - Kelas Knitting pemula : Tim Pelatih : Yanna Mardiana
biaya pelatihan Rp. 125.000 (3 jam pertemuan)
peserta : 10 orang (max)

- kelas Crochet pemula : Tim Pelatih : Dewi Rani dkk
biaya pelatihan Rp. 125.000 (3 jam pertemuan)
peserta : 10 orang (m

ax)

- kelas Knitting lanjutan/advance : Tim Pelatih : Martin Suhanda
biaya pelatihan Rp. 125.000 (3 jam pertemuan)
peserta : 10 orang (max)

- kelas Crochet lanjutan/advance : Tim Pelatih : Linda Nicegreen
biaya pelatihan Rp. 125.000 (3 jam pertemuan)
Peserta : 10 orang (max)

Minggu, 12 Juli 2009

09.00 - 12.00 : - Kelas Knitting Pemula : Tim Pelatih : Mariane Bunadi, Christine (KAL)
biaya pelatihan Rp. 125.000 (3 jam pertemuan)
peserta : 10 orang (max)

- kelas Crochet Pemula : Dewi Rani dkk
Biaya pelatihan Rp. 125.000 (3 jam pertemuan)
peserta : 10 orang (max)


- kelas Finger Knitting/Yubiami : Tim Pelatih : Linda Nicegreen
Biaya Pelatihan Rp. 100.000 (3 jam pertemuan)
peserta : 10 orang (max)

- Kelas Crochet Advance :Amigurumi (membuat boneka) : Tim Pelatih : Ineke Marta
Biaya Pelatihan Rp. Rp. 125.000 (3 jam pertemuan)
peserta : 10 orang (max)

13.00 - 16.00 : - Kelas Knitting advance/lanjutan : Tim Pelatih : Mariane Bunadi, Christine (KAL)
Biaya Pelatihan Rp. 125.000 (3 jam pertemuan)
peserta : 10 orang (max)

- kelas Crochet Net : Tim Pelatih : B. Swat dkk
(belajar membuat tas dengan dasar dari net/kanvas)
Biaya pelatihan Rp. 125.000 (3 jam pertemuan)
peserta : 10 orang (max)


- kelas Wire Crochet : Tim Pelatih : Annie Nugraha
(belajar membuat perhiasan dari kawat)
biaya pelatihan Rp. 200.000 (3 jam pertemuan)
peserta 10 orang (max)

Biaya pelatihan sudah termasuk peralatan, snack dan merchandise.

Untuk dapat mengikuti kegiatan bazaar dan pelatihan, teman2 diharapkan bisa menghubungi Melisa di nomer 0813 1410 1721, berikut ini kami juga attach formulirnya.

Khusus untuk sponsorship dan kerjasama publikasi bisa menghubungi Ambar di nomer 0817 9122 090.

Last Updated ( Saturday, 04 July 2009 03:57 )
 
Let's knit series: Sock (2b) Top-down PDF Print E-mail
Written by Tya   
Monday, 16 March 2009 10:50
Mari kita melanjutkan merajut kaus kakinya... :D

Ok, kemaren itu sudah selesai bagian Heel. nah, mari kita masuk ke bagian gusset.

----------------------------------- Gusset (11 sts x 2)

dari gambar terakhir, kita siap mengambil sts untuk gusset (dilihat dari belakang/heel)


Ngambil sts?

Iya, jadi kita akan mengambil sts, sejumlah seperempat dari CO di sisi kiri dan kanan dari heel yang sudah dibentuk. Ambil sts baru, dengan menggunakan pinggiran heel sebagai base/dasar.

Kalau sudah diambil akan terlihat seperti ini (dilihat dari depan/foot):


Jadi urutannya adalah begini:
  • selesai heel turn
  • ambil 11 sts (sisi kanan gambar di atas)
  • knit seperti biasa di jarum A (sesuai pola)
  • ambil 11 sts (sisi kiri gambar di atas)
  • kerjakan heel turn seperti biasa (kalau di sini sih knit across)
  • stop knitting dulu... kita redistribusi dulu.
zoom di sisi kiri di lihat dari heel side: (perhatikan basenya)


Nah, supaya gampang, kita redistribusi lagi jadi 3 jarum. Jumlah sts di jarum A tidak berubah, tetap 22 sts. Jarum B = 11 sts baru + setengah sisa Heel turn = 18 sts. Jarum C juga 18 sts. Jadi seperti ini:



-------------------------------------- Gusset decrease (58 sts)

Nah... udah saya tandain lagi tuh di gambar di atas, ada area decrease.

Inget kan, kalau foot/instep itu jumlah stsnya = jumlah sts CO? Nah, setelah ambil gusset, jumlah sts-nya jadi berlebih. Oleh karena itu kita akan menguranginya dengan decrease.

Terakhir kita habis redistribusi, kan?
  • Jarum C: knit sts yang tersisa di jarum C, sampai tinggal 3 sts. K2tog, K.
  • Jarum A: knit sesuai pola
  • Jarum B: K, SSK, K across
  • Jarum C: K sampai tinggal 3 sts, K2tog, K.
  • Jarum A: knit sesuai pola
  • Jarum B: K, SSK, K across
dan terus sampai total jumlah sts = jumlah sts CO (kalau dalam kasus saya, berarti kembali 44 sts)

Gusset selesai deh!


Garis kuning menunjukkan adanya pola miring dari K2tog/SSK.

------------------------------------------ foot/instep

Ini adalah bagian yang tergampang, sama seperti leg. Kerjakan sesuai pola, terus sampai memenuhi panjang yang dibutuhkan.



Biasanya foot/instep berhenti 1.5 - 2 inchi (3-5 cm) dari total panjang yang dibutuhkan (atau dari ujung terjauh jari kaki).

--------------------------------------------------------------------------Toe decrease (44 sts)

Mari kita mengerjakan Toe.

Formula Toe Decrease:
row 1/jarum A: k, ssk, k sampai 3 sts tersisa, k2tog, k
row 1/jarum B: k, ssk, k across
row 1/jarum C: k sampai 3 sts tersisa, k2tog, k.
row 2/jarum A, B, C: K across/ikuti pola

Kedua row terus diulang sampai jumlah total sts = setengah jumlah sts CO.

Nah, sebelum mengerjakan bagian tersebut, jangan lupa hitung, berapa baris yang dibutuhkan dari jumlah sts yang ada sekarang (CO) ke setengahnya.
Rumusnya kan=  CO - (4*x) = 0.5 CO
2x = jumlah barisan.
Kalau ternyata 2x itu lebih pendek dari 2 inci (cari tahu lewat gauge pas swatching), tambahkan row 3, 4, 5 (K across) seperlunya, ke dalam pengulangan formula Toe Decrease.
Biasanya yarn yang lebih kecil, macam sportweight ke bawah bakal butuh pengulangan yang lebih banyak. Kalau benangnya besar (bulky/worsted), malah ngga butuh pengulangan sama sekali.

Setelah decrease, akan terlihat seperti ini:


Garis kuning menunjukkan adanya pola miring dari ssk/k2tog.

Mari masuk ke bind off :)
-gilaaa udah mau beres lagi! Jagoan banget sih kalian????-


----------------------------------------------------------------------- Bind-off (20 sts)

Ingat, pas mau bind-off, jumlah sts = 0.5 CO.

Terus kenapa yang saya 20? Oh... itu sih suka-suka aja... :p Jadi formula 4:2 nya itu ngga mengikat. Kadang ada yang suka kaus kaki berujung pointy, jadi decrease sampai seperempat CO. Ada yang cuma sampai 3/4 CO... terserah, gimana aja boleh kok :D

Nah... kembali ke setelah Toe Decrease:


Siap untuk melakukan kitchener stitch! atau metode Bind-off apapun yang disuka :D Kitchener stitch ini banyak dipilih karena hasil sambungannya ngga keliatan.

Pada intinya, kitchener stitch itu adalah menyambungkan dua sisi rajutan dengan sambungan yang tidak terlihat. Nah, di gambar berikut, ilustrasi kitchener stitch ditunjukkan oleh benang hijau:



Nah... berhubung ada keterbatasan alat untuk mengajarkan kitchener stitch secara baik dan benar, silakan refer ke page ini, atau ini untuk melihat dengan jelas bagaimana kitchener stitch sebaiknya dilakukan. Ok? :D Maklum, lagi tinggal di dusun. Peralatan merajut cuma bawa 1 set dpns 2 mm, sama 1 set dpns 3 mm.

Lalu... selesai deh!


Sembunyikan benang sisa (biasanya disebut sewn) di tengah rajutan, beres deh.

SEGERA mulai lagi untuk kaus kaki yang sebelahnya. Kalau ngga, bisa kena 2nd sock syndrome. :p

Jangan biarkan kaus kaki yang sudah kau buat menjadi yatim piatu :D hihihihihi... Block jika perlu. Biasanya sih perlu... :p

Nah, Top-down sudah selesai! Episode berikut, kita nyemplung ke metode toe-up. OK?


Good luck and see you next time!
 
Let's knit series: Sock (2a) Top-down PDF Print E-mail
Written by Tya   
Monday, 16 March 2009 10:47
Eh, ketemu lagi! Hehehehe. Sesuai janji, saya bakal mengupas soal merajut kaus kaki dengan metode Top-down.

Yuk mariiii...

Sebelum mulai, setiap ada tanda -------- yang panjang, itu berarti tempat yang disarankan untuk istirahat kalau lagi ngerjain kaus kaki ini. Ok? Selamat belajar! :D

-------------------------------------------------------------diskusi metode

Nah, sebelum kita mulai nyemplung ke dalam pembicaraan teknis, lemme give you some reason to consider top-down as your chosen sock knitting method:
  • Pola rajutannya mengarah ke bawah (biasanya lace nih yang kudu dicek dulu)
  • bagian awalnya cukup mudah, karena hanya berbentuk lurus dulu
  • Bentuk toe bisa dimodif: full, dua jari, 5 jari, atau toe-less :D
Masih bingung? Diam dulu di sini. Pikirkan sekali lagi, mau top-down, atau toe-up? Atau flat/seam (itu loh, yang dibuat bidang datar dulu, baru disatuin...)?

Dan... mari kita mulai pembicaraan teknisnya...

Sebelum mulai, kita pasti harus tahu:
  1. hasil swatch, alias gauge benang yang bakal dipakai plus jarumnya (ukuran jarum, dpn/circs).
  2. pola yang mau dibuat. kalau bisa gaugenya yang sesuai, tapi kalau ngga... nanti kita modifikasi. Gampang kok!
  3. berapa banyak benang yang dibutuhkan
  4. Hitungan, hitungan, hitungan.
Berhubung hitungan itu vital buat kaus kaki, maka sebelum mulai, kita kudu berhitung dulu. Mau pakai kalkulator, sempoa, jari, sampai excel juga, SAH!!! semua boleh :)

Masih inget soal bagian-bagian kaus kaki? So... tiap bagian punya ukuran yang berbeda. Leg dan heel beda jumlah sts, beda lagi dengan toe, apalagi kalau ada gusset, terus beda lagi kalau toe-nya mau dibuat berjari. Nah lho....

Jangan panik.

Ada formulanya. Dan formula ini sudah cukup umum. Ikutin aja dulu formula ini, cukup manjur kok. Kalaupun harus dimodifikasi, biasanya ngga terlalu jauh :). Paling 2-5 sts doang. Enaknya? Asal tahu salah satu jumlah sts, kita bisa langsung kalkulasi keseluruhan kaus kaki.

CO : Heel/tumit : Gusset : Foot/Instep : Toe = 4 : 2 : [1 x2] : 4 : 2

[1 x2]????

Maksudnya, angka perbandingannya 1 tapi ada 2 kali. Nanti pas ngerjain juga ngerti kok :) Jadi kalau sekarang bingung. Ngga apa-apa.

Nah, berhubung saya baik, saya bakal bikin kaus kaki barengan deh :D.

-----------------------------------------------------------CO (44 sts)
Mari kita mulai dengan CO (Cast On). Sesuai dengan perhitungan saya, saya akan CO 44 sts. CO seperti biasa, dengan metode apapun. Berhubung saya sukanya pakai 4 dpns, mohon dimaklumi ya :D


Lalu, si 44 sts didistribusikan ke 3 jarum:


Nah... yang pakai huruf adalah nomor jarum. Yang angka adalah perbandingan jumlah sts. A : B : C = 2 : 1 : 1. Karena total sts ada 44, jadi A = 22 sts, B = 11 sts, dan C = 11 sts.
Kenapa dibagi seperti ini? Sebenernya terserah kok. Bagian A ini akan menjadi bagian atas kaki (foot). bagian B dan C akan terlibat di heel, gusset dan instep (=bagian telapak kaki).


-----------------------------------------------------Ribbing/Leg (44 sts)

Terus mari kita merajut ribbing. Ribbing biasanya berupa pola mudah berulang. Misal 2k2p (aka 2 x 2 ribbing), 3k3p, atau 1ktbl1p (apa ituuu???? :D). Mau ngga pakai ribbing juga ngga apa-apa. Banyak kok kaus kaki yang main bablas aja masuk pola. Supaya gampang, sekarang saya buat pola = ribbing = 2k2p.


Nah, kalau ada yang bingung kita ngerajut di bagian luar atau di bagian dalam... jawabannya adalah di bagian luar. Foto di atas ceritanya melihat si kaus kaki dari top/atas.

Ok kembali ke me-ribbing. Saya buat 8 baris ribbing. Biasanya kalau pendek begini paling cuma sampai mata kaki. Kalau mau lebih panjang, bisa buat 20 baris. Seperti ini misalnya:


Pada intinya... panjang ribbing boleh sesuka hati. Ribbing ini biasanya membantu menahan bentuk kaus kaki, dan membuat kaus kaki lebih menempel di betis. Soal variasi ribbing, kita bicarakan lain kali, OK? :D

-------------------------------------------------Heel (22 sts)

Setelah melakukan ribbing, kalau ada pola, ikut pola dulu hingga kaus kaki memenuhi tinggi yang diinginkan. Saya sendiri di sini langsung masuk ke heel. Nah, Heel dilakukan hanya di jarum B dan C. Pola umumnya adalah: *Sl1,K1* ulang sampai akhir baris (B+C) untuk right/exterior side; Sl1, P across (B+C) untuk wrong/interior side. Walhasil jumlah sts di B dan C disarankan genap. Kalau ganjil? Silakan kurangi atau tambah dengan memindahkan 1 sts ke/dari jarum A.

Di sini, B = 11 sts, C = 11 sts. Jadi total 22 sts.


Nah foto di atas menunjukkan wrong side (interior) dari heel. Saya sedang mengerjakan heel dari jarum B ke C.

Ngga mau Sl1,K1? Saya pernah mencoba Sl1, K across (right side) dan Sl1, P across (wrong side) dan ga ada masalah. Meneruskan ribbing/pola hingga bagian ini juga pernah. Ngga ada masalah juga :D. silakan coba-coba, mana aja yang sreg.

Nah... kalau sudah selesai, penampakannya akan seperti inilah:

Jika yang dilihat adalah interior heel (dalam kaus kaki):


Jika yang dilihat adalah eksterior heel (bagian luar kaus kaki):


Begitu cerita Heel partnya. Sekarang kita masuk ke Heel Turn... ok?

*saran: si B + C dikerjakan di satu jarum aja pas mengerjakan heel.

----------------------- Heel Turn (masih 22 sts)

Heel Turn itu sebenernya bagian dari Heel. Bagian inilah yang akan membentuk lengkungan yang nanti sesuai dengan bentuk tumit yang membulat.

note: kalau sts masih dibagi menjadi B dan C, satukan aja di satu jarum.

Formula umum:

1st row (WS): Purl sampai tengah, P 2 lagi, P2 tog, P, balik. (sungguh, balik sekarang juga)
2nd row (RS): Slip 1, K5, K2tog, K, balik/turn.
3rd row (WS): Slip 1, P6, P6tog, P, balik/turn.
4th row (RS): Slip 1, K7, K2tog, K, balik/turn.
dst sampai seluruh stitches B+C terpakai habis.

Keliatan kan polanya gimana?

Ini saat saya sedang mengerjakan Heel Turn dilihat WS (kanan = jarum C)


Posisi lagi di row 3, baru aja P2tog.

Kalau sudah selesai semuanya, akan menjadi seperti ini (RS):


Keliatan ngga ada pola garis miring yang terbentuk dari P2tog dan K2tog? Aku tandain pakai garis merah.

Notice juga kan, kalau jumlah stsnya jadi bukan 22 lagi?

Q : Saya pakai benang laceweight, kalau cuma +P2 setelah purl sampai tengah, tumitnya sempit dong? Bisa di +P8 ga?
A : Boleh, ngga apa-apa. Memang penambahan P itu harus disesuaikan dengan jenis benang yang kita pakai; sportweight, laceweight, worsted, bulky, dst... Kalau dibandingkan antara benang yang spec-nya sama, bedanya cuma nanti di bagian ujung tumit bakal lebih lebar. Bagian ujung tumit ditunjukkan oleh gambar di bawah:


------------------------------------------STOP!!!!!

Nah, kita stop dulu sampai sini. Berikutnya, kita bakal belajar tahap berikutnya dari top-down sock knitting: Gusset, Foot/instep, dan Toe.

kalau ada pertanyaan, jangan ragu-ragu untuk kontak gue, lewat blog or japri. ;)

I'll see you when I see you ;;)
 
Let's knit series: Sock (1) Introduction PDF Print E-mail
Written by Tya   
Monday, 16 March 2009 10:43
So... you want to knit sock?

Banyak alasan untuk merajut kaus kaki:
  • tidak makan banyak waktu
  • tidak makan energi
  • belajar intermediate knitting + konsistensi dalam merajut
  • tidak makan banyak benang
  • bisa dipakai
  • bisa dipamerin!

Hehehe... Setidaknya itu alasan saya untuk merajut kaus kaki.

Nah, sebelum mulai perkenalan dengan merajut kaus kaki, saya ingin memperkenalkan si Pinko. Siapa kah Pinko?

Pinko adalah kaus kaki yang paliiiing pertama saya buat. Pinko akan menjadi asisten saya untuk menerangkan dunia merajut kaus kaki. Ok, Pinko?

Buat yang sudah pesimis duluan untuk merajut kaus kaki, jangan takut. Saya sendiri dulu belajar cuma lihat dari blognya Terri Royea, dan langsung beraksi dengan jarum rajut. It's ok  to make mistakes. Kalau ngga bikin salah, ngga akan belajar kan? Nah, berhubung sekarang sudah ada milis merajut, pastinya sih, selalu ada yang bantuin. Ya kan? :)

Pada intinya, kaus kaki itu terbagi menjadi beberapa bagian [kayak textbook aja sih...]. Tiap buku rajut/negara bisa menyebut dengan istilah yang berbeda, tapi pada intinya sama saja:

  • Leg/betis: Bagian yang dirajut dari area betis sampai tepat di bawah mata kaki/heel/tumit.
  • Heel: Tumit, biasanya disebut bagian yang paling sulit [ngga ko, gampang banget :)]
  • Gusset: Area segitiga di bawah mata kaki (kadang secara spesifik disebut gusset, kadang tidak sama sekali)
  • Foot/Instep: Area kaki dan telapak kaki
  • Toe: bagian yang menutupi jemari kaki.

Coba lihat gambar di bawah ini:

Nah... bagi yang bingung. Berhenti baca di sini. Lanjutkan besok atau lusa. Kalau kebanyakan, nanti pusing. Pusing terus bete. Bete terus ngga mau ngerajut kaus kaki. Nah... gawat kan?

Lanjut ...

Ada beberapa cara merajut kaus kaki. Yang paling populer ada 2, Toe-Up dan Top-Down.

Toe-up itu dimulai dari bagian Toe dulu, terus foot, heel dan leg (metode ini jarang banget nyebut-nyebut gusset).


Top-down itu dimulai dari Leg, heel, gusset, foot, baru toe.


Nah... kalau bingung. Berhenti lagi di sini... resapi. Lanjut lagi besok :)

Lanjut...

Kedua cara tersebut, Toe-up dan Top-down adalah cara merajut circular, alias merajutnya kontinyu, dengan memakai 4 atau lebih dpn (double pointed needle), atau dengan menggunakan 1 atau lebih circular needle.

Ada ngga, cara yang biasa aja?

Ada, tapi lebih rumit (kalau menurut saya lho). Bayangkan sebuah kaus kaki, lalu dibelah sejajar jari tengah, atau dibedah tepat di pinggir kiri dan kanan kaki. Hasil potongannya bisa ditaruh di bidang datar kan? Nah... kalau kita merajut mengikuti pola belahan tersebut dan kemudian menyatukan hasilnya dengan kitchener sticth biasa, Tadaaaa... jadi kaus kaki juga. Hanya saja metode ini sudah jarang sekali dipakai. Untungya saya masih bisa menemukan contohnya di web (thanks to edwardrad@flickr)

Nah... kira-kira, begitulah pendahuluan alias introduction soal kaus kaki. Untuk edisi berikutnya, saya akan membahas merajut kaus kaki cara Top-down. Ok?

Hope I'll see you on my next article :)
Ciao!

 
Rancunya penggunaan istilah "knitting" PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Sunday, 25 January 2009 08:07


Seringkali saya menemukan rajutan-rajutan hasil crocheting rajuters di Indonesia, tetapi disebut 'knitting' oleh yang punyanya. Usut punya usut, ternyata ada hubungannya dengan buku-buku merajut asal Jepang yang seringkali dipakai menjadi referensi oleh rajuters Indonesia.

Di Jepang, kata yang digunakan untuk merajut atau menghasilkan rajutan adalah "amimono" (編み物 atau 編物 atau あみもの) dengan kata dasar "amu" (あむ), baik itu knitting ataupun crocheting. Mereka juga bahkan menggunakan kata "nitto" (=knit) untuk menyatakan hasil rajutan knitting dan crocheting. Sebetulnya untuk crochet mereka punya istilah sendiri "kagibariami" (かぎ針編み) tetapi "amimono" lebih lazim digunakan.

Kira-kira seperti rancunya istilah "merajut" di Indonesia ya? Yang namanya "merajut" bisa knitting bisa crochet. Tampaknya tidak penting, padahal secara teknik dan hasilnya sangat berbeda sehingga sepantasnya istilah untuk keduanya dibedakan. Karenanya di website merajut.com, knitting atau breien atau merajut dengan dua jarum disebut dengan "merajut", dan crocheting atau hakken atau merajut dengan satu jarum (berkait) disebut dengan "merenda".

Yang menimbulkan masalah adalah ketika istilah Jepang itu diterjemahkan ke bahasa Inggris menjadi "knit" dan "knitting". Contohnya buku-buku merajut seri "Let's Knit" tapi isinya campur-campur antara knitting dan crocheting. Orang yang tidak tahu bahwa keduanya berbeda, bisa terkecoh.

Banyak yang sebetulnya hanya bisa crochet, lalu melihat rajutan-rajutan hasil knitting di buku-buku itu bertanya "Gimana nih baca polanya" sambil tidak menyadari bahwa knitting dan crocheting itu berbeda, alatnya berbeda, dan polanya juga berbeda.
Sebaliknya, orang-orang Amerika dan Eropa yang terbiasa membedakan keduanya, jadi merasa janggal membaca buku-buku Jepang, karena ketika mereka membeli buku "Knitting" ternyata isinya pola-pola crochet.

Karenanya saya pikir rajuters Indonesia perlu mengetahui perbedaan antara "knitting" dan "crochet" sehingga dapat menerapkannya untuk kegiatan yang sesuai. Karena kalau bukan kita sendiri para perajut yang menggunakannya dengan benar, siapa lagi yang mau peduli?

Untuk informasi lebih lanjut tentang bedanya merajut/knitting/breien (merajut dengan dua jarum) dan merenda/crocheting/hakken (merajut dengan satu jarum), silakan dibaca artikel-artikel di bawah ini :

Mengenal Rajutan (1)
Mengenal Rajutan (2)
Mengenal Rajutan (3)

p.s : di foto itu, buku pola rajutan Jepang "Let's Knit Series", memperlihatkan topi crochet dan knitted vest.

Last Updated ( Tuesday, 27 January 2009 00:14 )
 
Cowok Merajut, Siapa Takut? PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Sunday, 25 January 2009 02:24

Sebelumnya, terimakasih kepada mas Budi Suwarna dari Kompas, yang sudah meliput komunitas merajut dan semakin memasyarakatkan wacana bahwa kegiatan merajut bukanlah monopoli kaum wanita.

Stereotyping kegiatan merajut yang terjadi di masyarakat, merajut diidentikkan dengan pekerjaan wanita, lebih sempitnya lagi nenek-nenek. Pemikiran seperti ini bukan hanya terjadi di Indonesia, bahkan juga di negara-negara yang kebudayaan merajutnya sudah lebih mendarah daging seperti di Amerika Serikat.

Padahal mereka yang merajut sebagai hobi, bukan hanya nenek-nenek. Di seluruh dunia, tua muda bahkan anak-anak, tidak hanya wanita, tetapi juga pria, banyak yang menggemari kegiatan merajut. Yang profesinya ibu rumah tangga, mahasiswa, karyawan, eksekutif, ilmuwan, bahkan selebriti Hollywood.

Jika menengok sejarahnya, sebenarnya kegiatan merajut pada awalnya dilakukan oleh para pria. Budaya merajut berasal dari Timur Tengah, tepatnya dari jazirah Arab sekitar 3000 tahun yang lalu.  Oleh para pedagang Arab kemudian keterampilan ini disebar ke berbagai belahan dunia. Ke Timur hingga negri Tibet, Barat hingga ke Spanyol, dan ke daerah-daerah pelabuhan di wilayah Mediterrania. Dari negeri Spanyol kemudian menyebar ke daerah-daerah Eropa lainnya, dan dengan adanya kolonisasi Eropa di berbagai wilayah dunia, keterampilan ini menyebar pula hingga ke Amerika, Afrika dan Asia, termasuk hingga ke Indonesia yang diperkenalkan oleh orang-orang Belanda. Karena itulah di Indonesia keterampilan merajut lebih dikenal dengan istilah Belandanya, hakken (merenda atau crocheting, ialah merajut dengan satu jarum berkait) dan breien (knitting, merajut dengan dua jarum).

Memang kemudian kegiatan ini berangsur-angsur ditinggalkan oleh pria dan menjadi keterampilan standar wanita muda Eropa sebelum ditemukannya mesin tenun dan rajut. Ketika kemudian gerakan feminisme mencuat pada era 60an, kegiatan merajut ditinggalkan oleh wanita karena dianggap sebagai opresi terhadap kebebasan wanita. Mungkin dari sinilah munculnya stereotyping bahwa "merajut adalah pekerjaan nenek-nenek", karena terbentuk jurang generasi perajut, yaitu antara generasi wanita sebelum munculnya gerakan feminisme dengan generasi cucunya.

Di belahan dunia tertentu, pria merajut tidak pernah dianggap aneh. Seperti misalnya di Taquile, Peru, para pria terbiasa merajut penutup kepala tradisionalnya sendiri. Nelayan-nelayan Skotlandia merajut sendiri sweater-sweater mereka (guernsey).

Desainer rajutan juga tidak didominasi wanita, banyak di antara mereka adalah pria dan dipandang sebagai top designer. Di dunia knitting, nama-nama yang sering terdengar misalnya Kaffe Fassett (juga desainer sulam dan patchwork), Brandon Mably, Vladimir Teriokhin, juga desainer fashion James Coviello, Perry Ellis, Pierre Carrilero, Isaac Mizrahi, Marc Jacobs, Todd Oldham. Di dunia crochet, Kenzo dikenal sering mengangkat crochet dalam koleksi rancangannya, begitu juga Michael Kors. Hugo Kirchmaier adalah desainer crochet di awal abad 20, banyak menghasilkan desain filet crochet.

Jadi pria tidak perlu merasa 'gengsi' merajut, karena pada awalnya pun kegiatan ini adalah kegiatan pria. Di samping ini video yang menunjukkan para pria yang merajut, "Real Men Knit".

Yuk, merajut!

*lebih jauh tentang pria merajut : http://www.menknit.net/

Last Updated ( Sunday, 25 January 2009 03:07 )
 
Knitting On Top of the World PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 21 January 2009 04:45

Saya dapet buku ini karena lupa 'decline' tawaran featured selection di Crafter's Choice book club. Padahal saya ga niat beli (karena duitnya mau dialokasikan buat yang lain). Tapi lumayan lah, jadi bisa ngintip isinya dulu sebelum dibalikin.

Buku ini oversize. Besar, tebal, dan hardcover. Nggak masuk ke mailbox makanya saya mesti 'ngejemput'nya ke kantor pos (abisnya cuma beberapa tukang pos yang rajin naik ke lantai atas).

Eniwei, buku ini punya subjudul "The Global Guide to Traditions, Techniques and Design". Isinya seakan-akan merupakan 'world tour of knitting traditions". Setiap bab yang dikategorikan berdasarkan area itu, didahului dengan sejarah tradisi knitting, tekniknya, ciri khasnya baik dari segi motif maupun warna. Baru kemudian masuk ke pola-pola rajutan di mana Nicky menerapkan ciri-ciri khas tersebut ke dalam desain-desainnya dengan nuansa lebih modern dan masa kini. Nicky memberikan nafas baru pada ciri tradisional itu melalui bentuk dan siluet baru, atau menggabungkan motif tradisional dengan warna trend terkini.

Last Updated ( Wednesday, 21 January 2009 04:56 )
Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 Next > End >>

Page 1 of 4

Opini

Seandainya Ada Kafe Merajut....
Written by dydy   

Sewaktu ada teman yang menawarkan ide 'bikin kafe merajut' akhir tahun lalu, saya lempar idenya ke milis mari merajut. Langsung deh temen-temen milis rame ngasih tanggapan tentang idealnya sebuah kafe merajut.

selanjutnya..
 

Berita Dunia Merajut

Knitting Daily TV
Written by dydy   

Bagi yang berdomisili di USA (seperti saya...yay!), bulan Juli 2008 ini akan lauching knitting show "Knitting Daily TV" yang akan diputar di chanel-chanel public television (PBS). Mungkin teman-teman ada yang berlangganan newsletter Knitting Daily dari majalah Interweave? Nah, acara ini merupakan perpanjangan dari itu. Sebetulnya acara ini merupakan 'makeover' dari acara NeedleArts Studio with Shay Pendray, program televisi pertama yang memfokuskan diri membahas berbagai kriya benang.

selanjutnya..
 
 
Joomla 1.5 Templates by Joomlashack